OKE

LITERASI : HAFALAN ITU PENTING !

"Literasi" meskipun bukan barang baru namun beberapa waktu belakangan menjadi viral dan sering diperbincangkan, sampai dibuat Kelompok Kerja (POKJA) dan Satuan Tugas (SATGAS) Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai bagian dari implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. 

Sebenarnya Al-Qur'an pun telah menyitir tentang hal ini (literasi) ribuan tahun yang lalu dengan turunnya ayat "Al-'Alaq" yakni perintah untuk "Membaca" yang tidak sekedar membaca. Didalam portal Wikipedia, secara tradisional, literasi adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa tertulis secara aktif dan pasif atau kemampuan untuk "membaca, menulis, mengeja, mendengarkan, dan berbicara".

Literasi sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan atau kecakapan seseorang dalam mengolah, memahami serta menggunakan sesuatu informasi. Padanan katanya yang paling kekinian adalah “mel’ek” atau “cakap”.

Didalam framework kecakapan abad 21 (P21-battelleforkids.org) disebutkan beberapa literasi (standar) yang harus dimiliki oleh peserta didik diantaranya Literasi Keuangan, Ekonomi, Bisnis, Wirausaha, Kewarganegaraan, Kesehatan, Lingkungan, Informasi, Media dan TIK. 

Sayangnya Literasi masih dimaknai secara sempit yakni "membaca" oleh banyak pihak sehingga sejak bergulirnya program ini (GLN/GLS) lembaga pendidikan (sekolah) masih banyak fokus kepada "membaca" seperti kegiatan pembiasaan "membaca buku no-teks pelajaran selama 15 menit" sebelum memulai pelajaran. Namun yang disayangkan adalah "membaca" buku teks pelajaran yang wajib saja masih belum maksimal, padahal porsinya sangat banyak, hal ini dibuktikan dari hasil formatif assesment. Dan menurut penelitian, membaca dengan model tersebut (pembiasaan 15 menit membaca) malah dapat menurunkan motivasi membaca itu sendiri dalam diri siswa.

Scrapping Reading = Demotivate

Sekarang saya ingin menyatakan satu saja dari aspek literasi yang sangat powerfull yakni Membaca yang sering pula dikaitkan dengan kegiatan Menghafal yang kini dikonotasikan jelek karena produk dari Menghafal adalah Hafalan yang identik dengan Ingatan dan Ingatan itu katanya berada di level Low Order Thinking Skills (LOTS). Buktinya terkadang kita acap kali mendengar "Itu soal hafalan, ngga HOTS", padahal hafalan itu keterampilan yang cukup menentukan. Meskipun Membaca tidak identik dengan Menghafal bahkan sangat berbeda, namun salah satu metodologi/cara dalam menghafal adalah dengan membaca.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hafal  memiliki arti telah masuk dalam ingatan atau dapat bermakna mengucapkan di luar kepala (tanpa melihat buku atau catatan lain). Sedangkan Menghafal merupakan usaha untuk meresapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat dan Hafalan adalah sesuatu yang dihafalkan atau hasil dari pada menghafal.

Hafalan sebagai salah satu produk dari membaca merupakan dasar untuk mengolah Informasi baik informasi yang akan disajikan secara lisan dalam bentuk "publik speaking" maupun tertulis dalam bentuk "karya tulis". Para orator atau pembicara yang handal pastinya memiliki kemampuan publik speaking yang baik dan hal tersebut ditunjang dengan banyaknya referensi yang pernah dia baca serta jam terbang / pengalaman ketika tampil didepan publik. Begitu pula dengan para penulis hebat yang sehari bisa melahirkan banyak tulisan berbobot tentunya memiliki referensi bacaan dan hafalan yang banyak sebagai modal mengolah informasi menjadi tulisan.

Di dunia Islam, kita mengenal begitu banyak Tahfiz atau penghafal-penghafal Qur'an dan Hadist yang mampu menghafal ribuan ayat dan ribuan hadist termasuk dengan riwayat, arti serta maknanya. Sekarang cukup banyak metodologi dalam menghafal Qur'an yang dikembangkan dan mungkin juga bisa diadaptasikan dalam dunia pendidikan konvensional.

Dalam film-film mandarin yang berkisah tentang kerajaan tempo dulu sering pula kita jumpai kisah yang didalamnya ada scene tentang menghafal yang digunakan para pangeran/murid dengan cara sembari memutar-mutarkan kepala dalam mengingat/menghafal. Metodologi ini biasanya digunakan dalam ajaran Konfusius atau Kong Hu Cu yang sarat akan filsafat kehidupan (thank Mr. Tomy Jo dan Herlina Lim).

Untuk membuat lompatan besar terhadap aktifitas membaca maka perlu juga dibarengi dengan "menulis" misalnya karya tulis ilmiah, tulisan biografi, tulisan reflektif atau journey. Kegiatan menulis merupakan aktifitas yang paling baik dalam menyalurkan sekaligus mengkoreksi apa yang telah kita baca atau kita hafalkan. Dalam menulis secara tidak langsung anda akan memerlukan banyak refenrensi sebagai pembanding atau untuk menguatkan pendapat atau teori dan argumentasi yang anda bentuk.

Senada dengan menulis, aktifitas publik speaking lebih jauh lagi membutuhkan kemampuan referensi yang banyak melalui membaca bahkan menghafal karena dalam publik speaking, anda akan mengolah dan menyajikan informasi berdasarkan dari apa yang anda ingat/hafal, sementara menulis mungkin anda bisa terbantu dengan referensi dalam bentuk tekstual.

Kini jarang kita temui aktifitas menghafal dikelas karena sebagian kita mungkin terjebak dengan akronim HOTS yang kita upayakan untuk terjadi di kelas. Padahal membaca/menghafal selain dasar untuk mengolah informasi juga sebagai dasar dalam berargumentasi, dasar dalam berkomunikasi serta dasar dalam berkolaborasi. Argumentasi dan komunikasi yang baik tentunya perlu didukung dengan kecukupan referensi yang dimiliki. Artinya membaca/menghafal merupakan dasar dalam berfikir kritis, berinovasi dan berkreatifitas.

Untuk itu, jangan jadikan membaca hanya sekedar kegiatan seremonial semata untuk mengugurkan kewajiban dalam bentuk program 15 menit membaca, jika perlu jadikan membca menjadi 1 jam dan menulis 2 jam sehari disekolah, membaca yang "tidak sekedar membaca" dan menulis yang "tidak sekedar menulis".

Salam dari Ibu Kota Negara !

Fathur Rachim
http://fathur.web.id

Related

viral 8160932280564020039

Posting Komentar

Terimakasih atas saran dan tanggapannya, segera akan dibalas !

emo-but-icon

Follow Me !

Hot in week

item