OKE

EKSISTENSI INSTITUSI SEKOLAH : IJAZAH, KOMPETENSI DAN PROFESI DI ERA DISRUPSI

Beberapa waktu belakangan ini dunia pendidikan Indonesia kembali di hebohkan dengan pernyataan mas menteri pendidikan Nadiem Makarim, dimana beliau menyatakan bahwa “Saat ini Indonesia sedang memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi” atau dengan kata lain bahwa gelar bukan segalanya. Gelar yang tertulis dengan tinta emas didalam Ijazah tidak menjamin kesiapan berkarya. Senada dengan pernyataan ini beberapa waktu yang lalu seorang Rocky Gerung pun pernah berujar bahwa "Ijazah itu merupakan tanda orang Pernah Sekolah, bukan tanda orang Pernah Berpikir"

Sebenarnya pernyataan-pernyataan tersebut bukan hal baru, bahkan mungkin sudah sering kita dengar, namun karena yang menyatakan itu seorang pengambil kebijakan selevel menteri dan rocky gerung yang memang kadang out side the box maka viral dan menjadi perbincangan hangat. Padahal beberapa tahun yang lalu saya pribadi juga pernah menyampaikan hal senada, namun karena saya orang biasa-biasa saja maka "ngga ngefek" terhadap apa-apa.πŸ˜‹

Akhir-akhir ini kita juga semakin sering mendengar istilah Home Schooling, meskipun bukan barang baru di dunia termasuk di negara kita ini, namun sejak ramai artis-artis  belia mengikuti program home schooling maka istilah ini semakin naik daun.

Model pendidikan di era sekarang tampaknya sudah mulai mengarah ke fleksibilitas dan lebih holistik dengan pendekatan tematik integratif, mementingkan penalaran serta kontekstual dengan dunia peserta didik. Pendidikan harus bisa menjadi kegiatan yang seru dan menyennangkan, serta mampu menstimulasi kecakapan abad 21 sesuai dengan bakat dan minat peserta didik. Hal-hal inilah yang mungkin menjadi dasar dan alasan mengapa banyak artis muda-belia memilih homeschooling daripada sekolah konvensional.

Sebut saja Dul, Nikita Willy, Aurel dan Mikha Tambayong. Di sekolah biasa pada umumnya tekanan akan sangat terasa karena sekolah juga biasanya harus "memperlakukan" peserta didik secara adil dan sama meskipun pada dasarnya peserta didik tersebut berbeda. Alasan lain, banyak dari artis yang mengeluhkan jadwal padat mereka sehingga memilih homeschooling yang lebih fleksibel. Namun demikian jangan salah, Mikha Tambayong pun mampu berprestasi sembari berkarir bahkan sekarang sudah berhasil melanjutkan pendidikan di Harvard University untuk kelas internasional pada program magister jurusan manajemen. Hal ini membuktikan bahwa semua tergantung pada usaha dan kegigihan masing-masing individu.
Beberapa tahun lalu tatkala kami mengunjungi markas Google Indonesia di bilangan Senayan tepatnya di Pacific Century Place Tower Level 45 SCBD Lot 10, Sudirman Jakarta kami sempat berdiskusi dengan salah seorang Googler yang memiliki jabatan/posisi cukup penting di kantornya si mbah tersebut dan kebetulan berkewarganegaraan Indonesia. 

Layar Google Trend : Google Office Indonesia

Oya sebelum lanjut mengenai hasil diskusinya sebagai informasi tambahan bahwa Googler adalah istilah yang disematkan kepada para karyawan/pegawai yang berkarir di Google. Setiap Googler yang keluar atau berhenti (resign) dari perusahaan ini HARUS naik minimal 10 Kg berat badannya karena di tengah-tengah kantor disediakan pantry/kantin gratis dengan hidangan-hidangan yang Lezat sehingga kapanpun mereka lapar bisa tinggal makan, konon ada ketentuan bahwa pantry jaraknya tidak boleh lebih dari 10 meter dari ruang kerjaπŸ˜‹, mungkin ada benarnya jika orang kekurangan nutrisi bakal ngga bisa fokus bekerja.

Hal yang menyenangkan lainnya dan bikin betah kerja dikantor ini tersedia ruang bermain dan olahraga seperti tenis meja dan olah raga ringan lainnya, bahkan ruang atau tempat-tempat untuk beristirahat bahkan sofa untuk tidur. Bagi yang ingin menyendiri mencari inspirasi juga disediakan tempat-tempat untuk keperluan semacam ini. Ketika kami berkesempatan mengunjungi Google Singapura, ternyata model kantor semacam di Google Indonesia juga diterapkan disemua kantor Google, termasuk di Google HC California.  

Lantas apa hasil diskusi kami dengan para Googler tersebut ketika mereka kami tanyakan pertanyaan "Anda Alumni mana dan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) anda berapa ? Ternyata sangat variatif sekali tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya bahwa para Googler tersebut berasal dari universitas-universitas ternama semacam UI dan ITB atau sekelas Harvard dengan IPK Suma Cumloude atau Cumloude, ternyata ada yg berasal dari universitas "papan menengah" dengan IPK pas-pas-an. Hal ini juga pernah kami tanyakan kepada beberapa karyawan Intel saat mengunjungi kantor pusatnya di California dalam kegiatan Intel Visionaries.

Rupanya sejak tahun 2013, Google telah mendeklarasikan dan memplopori mengenai "kebijakan" yang diikuti oleh banyak perusahaan raksasa teknologi dunia dalam hal rekruitmen karyawan/pegawai. Ijazah bagi mereka sudah tidak begitu penting dari mana lulusannya (alumni mana) termasuk IPK tinggi bukan jaminan mereka "bisa bekerja". Untuk apa kami merekrut karyawan dari universitas ternama dengan IPK Cumloude, jika saat mereka bergabung dengan perusahaan kami, kami tetap harus melakukan training/pelatihan kepada mereka? Berapa biaya yang harus kami keluarkan untuk keperluan itu, terlebih jika ijazah mereka S1/S2/S3 tentu standar gajih-nya akan tinggi yang kadang tidak diimbangi dengan kemampuannya?

Lalu ketika ditanya, kriteria rekrutimen pegawainya seperti apa ? Maka dijawab bahwa syarat utama adalah memiliki kompetensi dalam bidangnya dan siap kerja baik sebagai individu maupun kesiapan bekerja dalam Tim/Kelompok (Kolaborasi), memiliki publik speaking (Komunikasi) yang bagus serta mampu berfikir secara komputasi (computational thinking) dan problem solving. Mereka banyak menemukan calon pegawai yang memiliki kompetensi bagus namun ternyata tidak bisa bekerjasama dalam sebuah Tim atau sebaliknya, ini juga menjadi pertimbangan bagi mereka. Dan syarat selanjutnya barulah Ijazah.  
Saya jadi teringat beberapa tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku sekolah memiliki tetangga yang bekerja sebagai sopir di sebuah bank swasta terkenal, dan saat itu untuk menjadi sopir harus memiliki ijazah minimal SMP/SMA. Begitu pula tatkala ingin menjadi Operator alat berat di perusahaan-perusahaan tambang juga diminta Ijazah. Namun apa yang terjadi saat ini, ternyata Ijazah juga menjadi nomor sekian bahkan kadang tidak diindahkan, yang terpenting adalah memiliki SIM dan mampu serta mahir dalam mengoperasikan mobil/alat berat tersebut.Bahkan kini sopir/driver taxi online pun tidak dituntut Ijazah, cukup memiliki SIM, STNK dan SKCK maka minimal sudah bisa "bekerja".

Suatu waktu kami mengunjungi sebuah sekolah swasta dimana banyak anak-anak orang "beduit" bersekolah ditempat tersebut dan kami pun berkesempatan berdiskusi dengan pimpinan disekolah tersebut. Mereka pernah "dimarahi" orang tua siswa yang juga bagian dari komite/yayasan dimana sekolah tersebut bernaung. Ketika lulus dari sekolah tersebut anaknya diberikan modal untuk membuka usaha, namun hampir satu bulan tidak ada progres mengenai usaha apa yang siswa tersebut akan buka dan jalankan. Orang tua mempertanyakan proses dan apa yang diajarkan selama 3 tahun di sekolah belum mampu membuat anaknya dapat menjawab/menyelesaikan permasalahan sederhana, yakni memanfaatkan modal usaha yang diberikan.     

Beberapa tahun yang lalu, kehadiran bimbingan-bimbingan belajar (ofline/tatap muka) begitu maraknya bahkan "Berani" memproklamirkan diri diberbagai spanduk iklan dan media baik cetak maupun elektronik, bahwa mereka telah sukses menghantarkan para siswa bimbingan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun kini kehadiran mereka beserta tenaga pengajarnya mulai "tergeser" dengan kehadiran bimbingan-bimbingan belajar online yang bahkan berani mengklime tidak hanya mampu meningkatkan prestasi akademik, namun juga sampai kepada proses pengembangan karakter siswa bimbingannya.

Dibidang lain, kesehatan misalnya, saat ini telah hadir berbagai situs dan aplikasi online dibidang kesehatan, sebut saja salah satunya "HaloDoc" misalnya yang akan melayani berbagai konsultasi kesehatan gratis yang sedikit banyak, cepat atau lambat akan menggeser eksistensi dokter termasuk dokter sepesialis sekalipun. Meskipun saat ini dibelakang aplikasi tersebut terdapat dokter dalam wujud fisiknya, namun bukan mustahil suatu saat akan terbentuk BIG DATA kesehatan dengan pengembangan Artificial Intelegence (AI) yang akan menggantikan fungsi manusia (dokter) dibelakang layar-layar aplikasi tersebut.

JIka demikian, bagaimanakah dengan eksistensi atau keberadaan sekolah-sekolah formal yang konvensional ? 
Sampai saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah-sekolah negeri favorit masih menjadi incaran banyak para orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Namun perlu diingat pula bahwa cukup banyak pula bahkan bisa dikatakan telah menjadi trend bahwa orang tua yang "relatif mampu" lebih memilih mempercayakan pendidikan putra-putrinya disekolah-sekolah berbasis keagamaan meskipun harus mengeluarkan biaya lebih besar.

JIKA fungsi guru dan sekolah hanya untuk men-delivered pengetahuan dan memberikan nilai semata yang dibuktikan dengan selembar Ijazah kepada peserta didik maka sekolah-sekolah formal dan konvensional beserta gurunya tersebut hampir bisa dipastikan sampai suatu titik akan berakhir bahkan mungkin punah hingga tersisa sejarah, artinya JIKA tidak memiliki nilai tambah dan tidak melakukan inovasi dalam proses pembelajarannya saat itu akan tiba.

JIka fungsi guru hanya mengajarkan dan mentranfer pengetahuan maka fungsi tersebut sudah tergantikan dengan adanya BIG DATA dari mbah Google yang dapat menjawab apapun yang anda cari dan ingin anda ketahui, serta hadirnya bimbingan bimbingan belajar online serta home scholling untuk legalitas Ijazah nya. Hampir semua profesi akan "terkoreksi" di era disrupsi ini.

Sekolah harus berubah dan bertransformasi, begitupula guru-gurunya selaku agen perubahan atau sebagai "guru penggerak" jika meminjam istilah dari mas menteri. Sekolah harusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk pengembangan Karakter, membangun rasa Empaty, membentuk Kolaborasi (team work), membiasakan Komunikasi (publik speaking), memiliki kosa kata yang cukup dan penguasaan tools melalui Literasi sebagai modal dasar dalam berinteraksi. Itu semua harus dibiasakan dan dibudayakan dengan pengintegrasian dalam proses pembelajaran, dan tugas-tugas tersebut hingga saat ini masih belum mampu diambil alih oleh mbah Google maupun Bimbel, disinilah mestinya institusi yang bernama Sekolah mengambil peran lebih.
Indonesia adalah negara yang subur makmur gemah ripah loh jinawi yang merupakan sebuah ungkapan untuk menggambarkan keadaan bumi pertiwi Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah ruah, bahkan dalam sebuah lirik lagu Koes Plus dikatakan "Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkat kayu dan batu jadi tanaman" yang juga menggambarkan begitu suburnya bumi pertiwi sampai-sampai cukup dilempar saja tongkat dan batu ketanah maka bisa menjadi tanaman.

Sedikit berbeda dengan tetangga kita nun jauh disana semisal Korea dan Jepang atau negara dengan 4 musim lainnya yang tidak sesubur bumi pertiwi Indonesia, jangankan "batu", tongkat saja ditanam belum tentu jadi tanaman. Perlu usaha ekstra dan kerja keras untuk membuat padi dan tanaman bisa tumbuh di tengah hamparan batu kapur di semenanjung Korea. Namun padi di Korea dan Jepang bulir-bulirnya begitu besar dan sangat pulen ketika dimasak, begitu pula dengan sayur mayurnya. Dan yang tidak kalah mengenaskan mereka tidak sepanjang tahun bisa bercocok tanam, karena musim dingin dan musim salju tentunya mereka akan bersama keluarga dirumah karena tidak ada yang bisa tumbuh diatas Salju. Mereka harus mampu menghasilkan panen besar dan sukses untuk dapat menutupi kebutuhan keluarganya tatkala musim dingin/salju yang pasti datang setiap tahunnya. Mungkin kondisi alam dan geografis inilah yang membuat masyarakat dari negara 4 musim memiliki ketangguhan dan disiplin yang sangat tinggi sebagai sebuah modal dasar yang mereka miliki dalam mendidik putra-putrinya, karena alam tidak memanjakan mereka, melainkan alam menempa karakter dan budaya mereka.

Haruskah Indonesia dianugrahi juga terlebih dahulu kondisi iklim seperti mereka agar bisa memiliki modal dasar berupa karakter yang kuat dalam hal disiplin, kemampuan untuk survival, dan ketangguhan dalam problem solving serta menciptakan karya-karya inovatif? Karena biasanya inovasi acap kali lahir dari kondisi yang serba terbatas. Atau mungkin juga, kita selaku orang tua atau guru atau sekolah yang memang telah menciptakan kondisi tersebut dimana anak-anak kita selalu berada dalam posisi "terjaga" dan terproteksi, selalu memperoleh nilai "baik" dan tabu jika kurang dari itu, bahkan "haram" jika harus harus membuat peserta didik untuk meneruskan pendidikan dan memperdalamnya pada jenjang dan tingkat yang sama pada tahun berikutnya.

Keberadaan lembaga sekolah benar-benar harus ditata ulang dengan sentuhan inovasi, ujian hidup siswa di masyarakat bukan pilihan ganda yang bisa dijawab dengan opsi A, B, C, D atau E. Nilai yang tinggi dan tidak seharusnya hanya tipuan mata bagi siswa yang mungkin dapat menjadi motivasi disatu sisi namun bisa juga menjadi racun yang mematikan disisi lainnya, karena didalam kamus hidup anak-anak didik kita tersebut yang ada hanya kata "berhasil", sehingga tatkala sedikit saja mereka "gagal" di masyarakat langsung down dan runtuh secara mental/psikisnya. Sandiwara yang dimainkan guru/sekolah selama ini harus segera diakhiri, untuk itu perlu good Wil yang kuat dan aksi berani serta outside the box dalam mengawal kebijakan tersebut dari pemangku kebijakan sekolah.

Untuk itu kita harus beralih dan berinovasi dalam pembelajaran dan penilaian di sekolah sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kecakapan abad 21 dalam diri peserta didik sebagai modal utama mereka untuk bisa hidup di zamannya kelak. Sayangnya belum ada film-film futuristic yang dibuat untuk menggambarkan sekolah dimasa depan atau jangan-jangan sudah tidak ada dimasa depan lembaga yang bernama "sekolah" ?

Kompetensi yang diperoleh dengan "kejujuran" jauh lebih penting dari selembar Ijasah "palsu" yang di bungkus dengan tanda tangan dan stempel basah serta pelindung dengan barcode. Sebagai bagian terakhir dari tulisan ini saya jadi teringat tatkala saya menanyakan sertifikat kompetensi dari perusahaan raksas dunia sekaliber Intel dan Google yang saya miliki namun tidak ada "stempel basah"nya, begitupula sertifikat/ijazah milik saya atau teman-teman dari universitas ternama di beberapa negara eropa dan asia yang juga tidak terdapat stempel basah bahkan ada yang tidak ada nomornya, rupanya otak saya pun selama ini sudah terkontaminasi "stempel basah".   

Selamat Tinggal Sekolah "LAMA"

Salam dari Ibu Kota Negara !

Fathur Rachim
http://fathur.web.id
YouTube Channel Fatthur Rachim

Related

viral 2621242143236847622

Posting Komentar

  1. Cius bro, saya baca sampai usai dan beberapa pernyataan saya setuju, terutama berhasil dan gagal, nilai A, B, atau C, minimal baik, inibyg sesungguhnya merusak, karena nilai tersebut cenderung sudah dikosmetik, jujur ini menyedihkan. Tetapi sekolah tinggi mahal semahal kedokteran sekarang dikuasai oleh kemampuan segelintir orang saja "kaya", dan mereka tdk masalah dengan pendidikan kompetensi apalah-apalah. Balik modalnya cepat bro...
    Sekolah di pandangan saya masih perlu ada untuk sosial sedukasi sejauh apapun kurikulumnya, karena sekolah seaungguhnya dirindukan... Salam hangat dari calon mantan ibukota.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah dalem banget tanggapannya bro, sepakat bro, tetap semangat mesti nanti jadi mantan....πŸ˜‰

      Hapus

Terimakasih atas saran dan tanggapannya, segera akan dibalas !

emo-but-icon

Follow Me !

Trending

Terbaru

Komentar

Langgan

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

HIPPER

HIPPER
Harmoni Pendidik Pengajar Indonesia

Tayangan

item